Minggu, 29 Juli 2012

surat ayah untuk anakku sayang


Anakku sayang :

Sepucuk surat ayah tuliskan atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu.
Anakku, menjadi seorang ayah itu indah dan mulia
Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini.
Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta.
Sebuah cinta yang telah terasakan, bahkan ketika yang dicintainya belum sekalipun ditemui.

Anakku, menjadi ayah itu mulia.
Bacalah sejarah ayah-ayah dan rasul, temukanlah betapa dialog yang terbaik itu beberapa tercatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.

Meskipun demikian, ketahuilah nak…
Menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui betapa sepanjang kehadiranmu disisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu dan makna tugas kebapakanku terhadapmu (meski tak semua tugas dapat kufahami dan kujalani).
Sepanjang masa keberadaanmu adalah masa terindah dan paling aku banggakan didepan siapapun, bahkan dihadapan Allah SWT, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan-Nya hingga usiaku saat ini.

Nak, saat pertama kali engkau hadir, kupandangi engkau penuh cinta, meski tak berani
memelukmu karena ayah terlalu takut engkau merasa sakit bila ayah gendong, namun setiap malam ayah dan ibumu temani engkau, ayah siapkan botol air hangat didekatmu karena takut engkau merasa dingin, ketahuilah nak, usia lahirmu tidak seperti bayi-bayi yang lain. Setelah engkau terlihat sehat barulah ayah berani mencium dan memelukmu, sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti bahwa aku dan ibumu tidak terpisahkan oleh apapun jua.

Tetapi…. Seiring waktu,
Ketika engkau suatu kali telah mampu berkata “TIDAK”, timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya.
Engkau bukan milikku, atau milik ibumu nak
Engkau lahir bukan karena cintaku dan ibumu
Engku adalah milik Allah, tidak ada hak ku untuk menuntut pengabdian darimu
Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya kepada Allah.

Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa sebenarnya engkau.
Dan dalam waktu panjang dimalam-malam sepi, kusesali kesalahanku ini
Sepenuh-penuh air mata dihadapan Allah. Syukurlah peristiwa itu mencerahkanku.

Sejak saat itu nak, satu-satunya usahaku adalah berupaya mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya.
Membuatmu senantiasa  memenuhi keinginan pemilikmu
Melakukan segala sesuatu karena-Nya, bukan karena aku dan ibumu.
Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tetapi agar engkau dikagumi dan dicintai oleh Allah.
Inilah usaha terberatku nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Allah.
Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Allah, agar perjalananmu mendekati-Nya tidak terlalu sulit.

Kemudian, kitapun kan melalui perjalanan ini berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam atau lumpur hitam. Aku hanya menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain, agar dapat kau rasakan perjalanan rohani yang sebenarnya.

Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Allah tak kenal lelah dan berhenti.
Nak, berhenti berarti mati, inilah kata-kataku setiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.

Akhirnya nak…
Kalau nanti kita semua dikumpulkan dihadapan Allah, dan kudapati jarakku amat jauh dari-Nya, aku akan ikhlas, karena seperti itulah aku didunia.

Tetapi kalau aku boleh berharap aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Allah.
Aku akan bangga nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan kita kembalikan kepada pemiliknya….

Dari ayahmu yang senantiasa menyayangi dan merindukanmu…

taken from so's writing & has modified

Tidak ada komentar:

Posting Komentar